REGEN RADIO

Ini adalah proyek pertama setelah lama vakum bermain elektronika.

Regenerative Radio a la Kitchin menjadi pilihan, direkomendasikan dan layak dibuat karena : mudah, murah dan hasilnya sangat menyenangkan, memberikan semangat dan percaya diri untuk proyek selanjutnya. Mendapatkan pengalaman baru dengan seni tuning yang tidak lazim dengan dua setelan.

Komponen tidak kritis, sembarang FET yang tersedia bisa digunakan, untuk pemula perhatian khusus hanya pada cara menggulung coil :

Perhatikan cara menggulung L1, L2 & L3, arah putaran gulungan harus searah. Kasus kesalahan pernah ditemukan pada seorang teman, ada gulungan yang tidak searah.

Dalam proyek ini saya baru mengenal metoda merakit “Manhattan Island”, potongan pcb dilekatkan dengan lem super di mother board pcb. Saat ini saya lebih suka memakai metoda merakit “Sarang Tikus”, jauh lebih cepat dan pada beberapa titik masih menggunakan Manhattan Island sebagai pijakan, tetapi tidak memakai lem super, sebagai gantinya saya memakai double ( adhesive ) tape, lebih cepat, tipe yang dipakai mempunyai spon hitam dengan isolasi hijau, saya lihat tukang kaca menggunakannya untuk melekatkan kaca cermin ke kayu lapis, dengan bertambahnya waktu akan melekat sangat kuat. Jika terkena panas solder, biarkan sebentar sampai dingin, dia akan melekat lagi. Gunting double tape tersebut menjadi potongan kecil, sesuai dengan ukuran pcb pad yang akan dilekatkan.

MODIFIKASI:

- Potensiometer dalam waktu lama cenderung menjadi kotor dan menimbulkan suara “kresek – kresek”  maka untuk VOLUME diganti dengan SELECTOR SWITCH dengan fixed resistor, sedangkan untuk potensio ATTENUATOR bisa diganti dengan varco plastic.

MINI REGEN a la ONNO (PA2OHH)

Berikut adalah mini regenerative radio dari design Onno ( PA2OHH ).

DDS VFO memakai MICROCONTROLLER

Setelah membaca artikel dari web site PA2OHH tentang DDS VFO tersebut, saya penasaran seperti apa wujudnya VFO DDS ini.

Langkah pertama yang saya pelajari apakah komponennya tersedia di pasaran atau tidak,  terutama :
coil 10mH, varactor BB212 , uC AT90S1200.  Untuk AT90S1200 ada tersedia, untuk coil 10mH saya cari tidak ada di pasaran, untung saya punya toroid pemberian teman bekas  switching power supply, setelah diukur dengan LC meter bisa memenuhi 10mH. Untuk varactor BB212 tidak ada di pasaran, yang tersedia beberapa varactor dari bekas tuner TV dan MV209 yang kapasitas maximumnya hanya 30 pF, ok saya pikir bisa diparalel nantinya.

Karena sama sekali belum punya pengalaman dengan microcontroller, saya tanyakan ke PA2OHH bagaimana caranya, dan beliau menjawab dengan memposting artikel HOW TO PROGRAM THE AT90S1200 MICROCONTROLLER.

Supaya pelaksanaannya rapi, saya persiapkan gambar kerjanya dulu, dari skema bagian per bagian. Dari gambar kerja barulah tiap bagian disusun di pcb, jika semua bagian sudah selesai, barulah menghubungkan tiap bagian dengan kabel penghubung..

Untuk VFO ada modifikasi, dari experiment sbb : varactor yang tersedia diparalel, punya saya ada 4 varactor, kemudian diseri dengan capacitor sebesar 1 nF. Untuk coil, supaya menghemat tempat digulung pada karet berbentuk donat, awalnya buat 1 dulu, ukur dan catat nilai induktansinya dan coil berikutnya menyesuaikan dengan frequency yang dihasilkan sebelumnya, demikian seterusnya sampai diperoleh range frequency yang kita inginkan, dalam hal ini adalah HF.

Untuk mengatasi kelangkaan varactor, saat ini ada ide lain, tapi belum pernah saya coba, sbb : pakai varactor dengan kapasitas kecil, bisa memakai LED, atau diode 1N4007, boleh dipasang back to back, ini untuk locking-nya. Kemudian diparalel dengan plastic varco dengan kapasitas ~300 pF, jadi coarse tuning-nya memakai varco, saya kira perlu ditambahkan roda varco agar lebih smooth. Silakan dikembangkan lebih lanjut.

Setelah semua komponen terpasang pada pcb dengan rapi , saatnya untuk memprogram uC,  seingat saya speed untuk WRITE di-set yang paling lambat, karena speed komputer saat ini sudah tinggi.  Saat ini alat pemrogram dan software nya entah ada di mana, jadi saya belum bisa memberikan detail lebih lanjut untuk hal ini.

Pertama kali ON, rangkaian tidak bekerja, setelah 2 minggu pusing mencari, diketemukan kesalahan ada pada kaki no. 10 uC, pada skema tidak tergambar sambung ke ground, setelah tersambung, rangkaian bekerja dengan baik. Skema tersebut sekarang sudah diupdate oleh PA2OHH.

Cara termudah untuk mengetes DDS VFO adalah memakai radio SW, DDS di-sweep disekitar tuning frequency radio SW, akan terdengar zero beat, dan pelan – pelan di-sweep naik ( atau turun )  sambil diikuti tuning pada radio SW, sampai range frequency atas ( atau bawah ) pada coil yang bersangkutan diketahui dan dicatat. Kemudian baru dibuat coil berikutnya, dst.

Output DDS VFO relatif flat, kecuali pada frequency di atas 20 MHz agak turun, bervariasi mulai +3 dBm sampai dengan +15 dBm  ( atau 10 ~ 30 mW ), levelnya cukup untuk disuntikkan ke diode ring mixer. Pengukuran dilakukan dengan Wattmeter sederhana yang sudah terkalibrasi.

Sebaiknya untuk selector switch memakai yang baik, bodynya dari plastik warna putih, mekanismenya terbungkus dalam bodynya,  ”klik” nya enteng tidak berat, harganya memang agak mahal sekitar Rp 22’000,- an di ELTECH – Pasar Genteng Surabaya. Milik saya memakai selector switch yang biasa, kadang – kadang setelah diswitch tidak menyambung.

DDS VFO ini sudah saya coba dengan SIMPLE PC RECEIVER WITH THE MICROCONTROLLER DDS nya PA2OHH juga, dengan hasil memuaskan. Nanti saya akan posting mengenai PC Receiver ini.

Jika diinginkan untuk men-display frequency dengan range tertentu, PA2OHH memberikan balasan e-mail sbb :

How to change the display setings works as follows. In the software the .ASM file, readable in ASCII, there are 2 lines, one for minimum frequency of 1 MHz and one for the maximum of 39 MHz. This last one is a test for the value 57 as 57 = 3×16+9…….

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.